Film Indonesia Agustus 2018: Persaingan Ketat Meraup Penonton


Featured Share to

Tidak terasa ya, tahun 2018 telah memasuki bulan Agustus saja. Bagaimana dengan kabar perfilman Indonesia? Ya, bisa dibilang Agustus tahun ini akan menjadi bulan yang menarik bagi film-film Indonesia.

Di pertengahan tahun, tepatnya di bulan Juni-Juli-Agustus, biasanya film-film Indonesia akan dihadapkan dengan tantangan dari film-film luar. Karena pihak Hollywood yang selalu memanfaatkan momen musim panas untuk merilis deretan film populer mereka.

Namun perihal persaingan ini bisa dibilang akan lebih menarik di bulan Agustus sekarang. Karena film-film Indonesia tidak hanya harus bersaing dengan film-film luar saja, tetapi juga dengan film lokal lainnya.

Salah satu penyebabnya adalah total film Indonesia yang direncanakan rilis pada bulan ini mencapai 13 judul. Mengingat tradisi rilisnya film Indonesia di hari Kamis, artinya akan ada sekitar 3 film yang muncul tiap minggunya.

Selain itu variasi genre dari film yang akan rilis juga akan berpengaruh tentunya. Meski masih didominasi drama dan horor, tetapi ada juga film aksi dan komedi. Hal itu tentu saja membuat persaingan film Indonesia semakin menarik, karena penonton pun memiliki pilihan yang lebih beragam.

Melanjutkan Gairah Film Horor

Bisa dibilang sejak 2017 lalu, film-film horor perlahan kembali mendominasi layar-layar di bioskop. Biang keladinya adalah film Pengabdi Setan garapan Joko Anwar. Ya, jangan lupa film tersebut telah tercatat sebagai film terlaris 2017 dengan total mencapai 4,2 juta penonton.

Namun sebenarnya kembalinya tren horor tak hanya dipicu oleh Joko Anwar seorang. Karena ada beberapa judul lainnya yang berhasil meraih popularitas tinggi seperti Danur: I Can See Ghosts (2,7 juta penonton), Jailangkung (2,5 juta), Mata Batin (1,2 juta), dan The Doll 2 (1,2 juta).

Melihat kesuksesan yang ada, tentu saja hal itu dimanfaatkan oleh para produser untuk membuat film-film horor lainnya. Gairah yang timbul berkat Pengabdi Setan dkk. pun berlanjut hingga tahun ini. Total tahun 2018 telah menghasilkan 21 film horor sejauh ini.

Hal itu pun tentunya akan berlanjut di bulan Agustus. Dari total 13 film, ada lima film horor yang siap rilis bulan ini. Mereka adalah Aib #Cyberbully, Kafir: Bersekutu dengan Setan, Sebelum Iblis Menjemput, Gentayangan, dan Sesat.

Dari kelima film di atas, Sebelum Iblis Menjemput memiliki komposisi yang menarik. Dimulai dari sutradaranya, Timo Tjahjanto, hingga deretan pemeran yang diisi oleh dua aktris muda, Chelsea Islan dan Pevita Pearce.

Timo memang lebih dikenal sebagai The Mo Brothers (kolaborasinya dengan Kimo Stamboel). Namun kemampuannya tentu tak boleh dianggap sepele. Ia pernah menulis untuk film V/H/S/2 (2013) segmen “Safe Haven” bersama Gareth Evans. Selain itu, hasil karyanya di Rumah Dara (2010) telah menuai banyak pujian.

Selain Sebelum Iblis Menjemput, film lainnya yang paling menarik adalah Kafir: Bersekutu dengan Setan. Film ini ditulis oleh Upi Avianto, penulis film horor Tusuk Jelangkung (2002). Sang sutradara, Azhar “Kinoi” Lubis pun mengakui akan membangun suasana menegangkan tanpa perlu jumpscare berlebihan.

Adaptasi dan Nostalgia

Selain bangkitnya gairah film horor, ada dua fenomena yang juga semakin populer di perfilman Indonesia. Pertama adalah film-film adaptasi, baik itu dari novel, komik, atau peristiwa nyata. Kedua adalah film yang memanfaatkan sisi nostalgia para penonton, seperti remake dan pembuatan sekuel dari film-film lama.

Pada Agustus 2018 ini, kedua fenomena itu pun sepertinya belum akan berakhir. Contohnya adalah film Serendipity, yang diadaptasi dari novel karya Erisca Febriani. Ini bukanlah yang pertama karya penulis muda ini diangkat ke layar lebar. Sebelumnya sudah ada Dear Nathan (2016) yang bisa dibilang cukup sukses dan mendapat banyak sanjungan.

Film lainnya adalah DOA – Doyok Otoy Ali Oncom: Cari Jodoh. Patut diketahui bahwa DOA adalah adaptasi dari tiga komik strip dari rubrik “Lembergar” pada harian Pos Kota. Sebelum diangkat ke ranah layar lebar, karakter Doyok, Otoy, dan Ali Oncom pernah dibuat serial animasinya yang diproduksi oleh Mpic Animation Studios dan tayang di MNCTV.

Nah, perwakilan dari sisi film “nostalgia” salah satunya adalah Si Doel The Movie. Mungkin nama Si Doel sudah familiar bagi yang rajin menonton televisi di era 1990an. Ya, film ini akan melanjutkan kisah sinetron populer Si Doel Anak Sekolahan. Tentu saja menarik untuk disimak bagaimana aktor-aktor senior seperti Rano Karno, Cornelia Agatha, dan juga Maudy Koesnaedi kembali memerankan karakter yang telah lama mereka tinggalkan.

Film Rompis juga bisa dibilang memiliki sisi nostalgianya tersendiri. Rompis (akronim dari Roman Picisan) akan mengangkat kisah dari sinetron dengan judul sama yang tayang pada 2017 lalu. Namun yang belum banyak diketahui adalah bahwa sinetron tersebut pada dasarnya adalah adaptasi dari film Roman Picisan, yang rilis pada 1980.

Dibanding judul-judul di atas, tentu yang paling menarik dan tak boleh dilewatkan adalah Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni. Karena boleh dibilang kalau film ini memiliki unsur dari dua fenomena tersebut, adaptasi dan nostalgia.

Wiro Sableng atau Pendekar 212 adalah tokoh yang pertama kali hadir di serial novel karya Bastian Tito. Melalui penceritaan yang detail serta menarik, buku-buku Wiro pun pada akhirnya berhasil meraih popularitasnya. Bahkan untuk judul Makam Tanpa Nisan terjual hingga 921 ribu eksemplar.

Serial buku Wiro Sableng sendiri dua kali diorbitkan. Pertama pada 1989, dan kedua pada 1994. Rekor Makam Tanpa Nisan pun dipatahkan di orbitan kedua. Buku Guci Setan berhasil terjual sebanyak 924.078 eksemplar.

Kepopuleran Wiro Sableng akhirnya diangkat menjadi serial televisi dan juga film. Di serialnya, karakter Wiro diperankan oleh Herning Sukendro atau yang akrab dipanggil KenKen. Sedangkan di ranah film diperankan oleh Tonny Hidayat dengan total 7 film.

Di tahun 2018 Wiro Sableng akan diperankan oleh anak dari pencipta karakter tersebut, Vino G. Bastian. Dengan unsur adaptasi dan nostalgia, bukan mustahil bila film ini menjelma menjadi pesaing terberat dari film-film Indonesia lainnya. Bahkan tak hanya untuk film yang rilis di bulan Agustus saja, tetapi juga yang akan tayang pada awal September. Mengingat Wiro Sableng akan muncul pada 30 Agustus mendatang.

Potensi Film 1 Juta Penonton

Senang rasanya bila melihat perfilman Indonesia di tahun ini. Salah satu alasannya adalah antusiasme penonton yang bisa dibilang setara atau bahkan berpotensi meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Mudahnya, hal itu bisa terlihat dari jumlah penonton film-film Indonesia.

Dari data yang dirangkum oleh filmindonesia.or.id, tercatat sudah ada 7 film yang berhasil meraup lebih dari satu juta penonton. Tentu saja angka tersebut masih di bawah perolehan tahun lalu yang mencapai 11 judul film. Namun mengingat tahun ini baru memasuki bulan Agustus, bukan mustahil bila capaian di 2017 akan terlampaui.

Bila melihat deretan film yang akan tayang di bulan Agustus, tentu ada kemungkinan daftar film “1 juta penonton” akan bertambah. Berikut adalah daftar lengkap film-film di bulan Agustus:

  1. Aib #Cyberbully (2 Agustus)
  2. Kafir: Bersekutu dengan Setan (2 Agustus)
  3. Si Doel The Movie (2 Agustus)
  4. Kasinem is Coming (9 Agustus)
  5. Sebelum Iblis Menjemput (9 Agustus)
  6. Serendipity (9 Agustus)
  7. Gentayangan (16 Agustus)
  8. DOA – Doyok Otoy Ali Oncom: Cari Jodoh (16 Agustus)
  9. Rompis (16 Agustus)
  10. Sesat (21 Agustus)
  11. Cinta Sama dengan Cinolo Na Tape (23 Agustus)
  12. Sultan Agung (23 Agustus)
  13. Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni (30 Agustus)

Melihat tren yang ada, film horor memiliki peluang yang cukup tinggi. Di tahun 2018, sudah ada 4 judul film horor yang berhasil merup lebih dari satu juta penonton. Mereka adalah Danur 2: Maddah (2,5 juta), Jailangkung 2 (1,4 juta), Kuntilanak (1,2 juta), dan Sabrina (1,2 juta). Khusus untuk Sabrina, angka tersebut masih bisa bertambah karena, saat tulisan ini dibuat, film tersebut masih tayang di beberapa bioskop.

Terlepas dari dominasi horor di Agustus, ada dua film yang juga punya potensi besar untuk perolehan penonton. Lebih tepatnya Si Doel The Movie dan Wiro Sableng.

Seperti yang telah dibahas di atas, Si Doel dan Wiro Sableng memiliki kekuatan dari sisi nostalgia yang ditawarkan. Ya, hal itu memang terbukti cukup ampuh. Sebagai contohnya di 2018 ada Eiffel..I’m in Love 2 yang berhasil merebut 1 juta penonton. Film tersebut memanfaatkan sisi nostalgia dengan membuat sekuel film setelah 15 tahun berselang.

Melihat popularitas Si Doel dan Wiro Sableng, bukan tak mungkin film ini bisa mengulangi fenomena yang terjadi pada 2016. Lebih tepatnya terjadi melalui film Warkop DKI Reborn dan Ada Apa Dengan Cinta 2.

*****

Dari ketatnya peta persaingan film Indonesia di bulan Agustus ini, tentu kita seharusnya bangga melihatnya. Karena hal ini menandakan bahwa secara perlahan film-film Indonesia mulai bisa merebut perhatian para penonton. Sekarang pertanyaannya adalah tinggal bagaimana kualitas film-film tersebut. Ya, jangan sampai momentum baik ini terbuang sia-sia karena kualitas buruk dari film-film yang ada.


Kutu Kasur

"Most of us are losers most of the time, if you think about it." - Richard Linklater