Eighth Grade (2018): Setiap Tindakan Sosial Berakar dari Etika Personal


Review Share to

Sutradara: Bo Burnham
Penulis: Bo Burnham
Pemeran: Elsie Fisher, Josh Hamilton, Emily Robinson, Jake Ryan
Genre: Drama, Comedy
Durasi: 94 Menit

Kayla (Elsie Fisher) menghabiskan hari-harinya dengan pergi ke sekolah dan balik lagi ke rumah, rutinitas ini selalu dilaluinya dalam kehidupannya sebagai remaja. Selepas bangun tidur, ia tak lupa untuk selfie sebentar, selanjutnya ia pun berangkat ke sekolah. Malam harinya, ia membuka akun instagramnya, mengecek dan mengintip kehidupan anak-anak populer di sekolahnya.

Selain itu, Kayla mempunyai channel youtube pribadi, di sana ia menceritakan kepada penontonnya bagaimana menjadi remaja yang ideal dengan banyak cara. Kayla pun menutup video dengan slogannya dengan mengucapkan “Gucci!” Ada kepedihan dan kepiluan ketika melihat hal ini terjadi, ada hal yang ganjil, bahkan setelah penonton diberi tempat yang berbeda dan Kayla diberikan lingkup dengan massa yang lebih banyak, penonton menyadari bahwa kehidupan nyata Kayla, nyatanya tidak-lah semanis dan seindah personanya di dunia maya. Bagi saya, hal ini mengkhianati diri mereka sendiri tentang siapa mereka sebenarnya.

Melalui debutnya sebagai seorang sutradara, seorang komedian bernama Bo Burnham menawarkan bahwa film ini sedang berusaha mensentralisasikan sebuah topik tentang bagaimana kemunculan media sosial dan smartphone telah mengubah pengalaman tumbuh dari seseorang secara drastis. Hal itu membuat topik yang ditawarkannya begitu cepat mengalir. Sehingga melalui video blog (vlog) yang dibuat oleh Kayla menjadi opening yang luar biasa untuk mengantarkan penonton mengulik lebih jauh tentang kehidupan gadis manis bernama Kayla.

(Footage from: Eighth Grade)

Kayla tinggal bersama ayahnya, Mark (Josh Hamilton). Mark sendiri merupakan single parent. Absennya ibu, harus membuat Mark berusaha keras untuk memahami isi hati dan pikiran anak tunggalnya yang tergesa-gesa untuk tumbuh besar. Mark memainkan ayah bukan sebagai simbol kebijaksanaan tetapi sebagai sahabat yang selalu ada dan memberikan semangat.

Kayla sendiri tidak digunakan Burnham sebagai simbol dari krisis remaja. Melalui interaksi 2 orang ini, Burnham memainkan pengadeganan melalui dramatisasi yang sifatnya humanis, sehingga membuat penonton bersimpati.

(Footage from: Eighth Grade)

Atas permasalahan ini, Kayla menjadi rumit dan kontradiktif serta perlawanan dalam batinnya tetap berjalan, hatinya benar-benar terasa sepi dan cenderung merasa tidak aman. Kayla pendiam, tapi matanya berkilau dengan senyuman tipis di bibirnya. Namun perasaan sakit hati tetap ditunjukan melalui ekspresi wajahnya secara kesuluruhan serta bahasa tubuhnya yang selalu tidak bisa diam.

Sehingga sekali lagi fokus dalam seluruh film ini sepenuhnya dimenangkan oleh Kayla. Semua karakter pendukungnya benar-benar tidak diberi porsi sebesar dirinya, yang ditunjukan hanyalah sesuatu yang baik-baik saja seperti gadis-gadis populer di sekolahnya, atau laki-laki yang ditaksir oleh Kayla. Namun situasi ini memungkinkan penonton untuk menjangkau lebih jauh mengenai Kayla dan membuat kita merasakan apa yang ia rasakan.

Merubah Perspektif

Perspektif dan subjektifitas Burnham dalam menggunakan Kayla sebagai tokoh sentralnya, terasa lebih seperti kebalikan banyak orang yang menganggap dan merendahkan generasi milenial. Alih-alih menunjukkan bahwa generasi milenial adalah hal yang harus diubah dan diberi pemahaman khusus, Burnham lebih tertarik dengan menunjukannya sebagai kenyataan yang telah terjadi dan membentuk suatu budaya yang baru.

(Footage from: Eighth Grade)

Seperti Saoirse Ronan dalam Lady Bird (2017), semangat kebaruan representasi remaja dalam film-film masa kini, Fisher menemukan banyak lapisan dimensi dalam penderitaan gadis yang sedang tumbuh, dan penonton memungkinkan untuk menerimanya sebagai pendengar mereka.

Momen Nyata

Ada momen-momen yang terasa dekat dan begitu nyata dalam film ini, seperti sikap ketegangan yang ditunjukan Kayla ketika berusaha untuk mempelajari apa itu blow-job. Ketika Kayla berusaha mencari dan mengambil pisang dan memasukan ke dalam mulutnya, saat itu ayahnya pulang. Dengan tegangnya, Kayla melihat ayahnya yang melihat dirinya bersikap aneh.

(Footage from: Eighth Grade)

Mark tahu bahwa anaknya tidak suka pisang, namun Kayla malah mengatakan kebalikannya. Konsekuensinya dengan pede Kayla memakan pisang tersebut, tetapi pada akhirnya ia memuntahkan pisang tersebut.

Kisah manis sebagai Kado Penutup

Pada titik ini, Eighth Grade bukanlah film khusus untuk anak perempuan atau bahkan untuk remaja, apalagi sebuah komentar sosial mengenai generasi milenial ataupun bullying. Eighth Grade pada dasarnya menunjukkan kelemahan manusia dalam menghadapi pertumbuhan serta ditambah zaman yang selalu berubah, semuanya disajikan oleh Burnham secara tulus. Tak jarang kita melihat film-film mengenai pertumbuhan remaja seperti ini memiliki ketajaman visual yang sangat realistis.

Pada dasarnya film ini mengajak kita untuk memahami permasalahan Kayla dan bukan untuk menilainya. Segala sesuatu yang terjadi terjadi pada Kayla, termasuk interaksi pemalu dan canggungnya dengan teman-teman populer sekolahnya merupakan sebuah representasi yang dialami oleh semua manusia pada usianya.

Kayla mungkin seperti teman-teman kita, yang pasti ada di lingkungan kehidupan kita. Ia menginginkan kita untuk berdiri di belakangnya. Dia adalah tipe gadis yang menginginkan kita untuk menjadi temannya.


Kutu Laut

a man who loving the film without thinking too much when the film is bad