Demi Oscar: Netflix Ubah Model Bisnis


News Share to

Beberapa tahun belakangan, Netflix dengan model bisnisnya telah berkembang menjadi suatu alternatif yang mendefinisikan kembali cara distribusi tontonan kepada khalayak ramai. Dengan menggunakan media internet –penghapus batas-batas teritorial dan rantai distibusi- layanan milik Netflix telah membawanya menjadi salah satu pemain besar yang dapat menikmati banyak pundi-pundi penghasilan.

Namun kini, Netflix memberikan fleksibilitas terhadap model bisnisnya. Di luar kebiasaan, kini Netflix berencana untuk ‘bermain’ ke bioskop-bioskop. Rencananya, Netflix akan menayangkan beberapa tayangan original mereka di bioskop terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam layanan streaming mereka.

Ada tiga film yang akan menjadi film original perdana Netflix yang tayang di bioskop. Yang pertama adalah film drama hitam-putih berjudul Roma karya sutradara Alfonso Cuaron yang digadang-gadang sebagai masterpiece oleh para kritikus yang menyaksikannya di festival.

Selain Roma, ada film antologi western yang ditulis dan disutradarai Coen Brothers yang berjudul The Ballad of Buster Scruggs dan film thriller yang menampilkan Sandra Bullock dan Sarah Paulson yang berjudul Bird Box.

Film-film Netflix tersebut akan ditampilkan di beberapa bioskop Amerika serta lebih dari 20 negara nantinya. Dan Roma adalah film yang tayang paling lama, premiere di bioskop tanggal 21 November 2018 dan akan masuk ke layanan streaming Netflix tanggal 14 Desember.

Roma, Alfonso Cuaron (National Review)

Langkah baru Netflix ini tentu tak terlepas dari kendala, salah satu kendalanya adalah tuntutan para jaringan bioskop. Sebut saja AMC dan Regal, mereka meminta waktu penayangan eksklusif sepanjang 90 hari sebelum film masuk ke dalam layanan streaming Netflix. Tuntutan tersebut bukanlah tuntutan tak berasalan. Pasalnya, jika jangka waktu antara penayangan bioskop dan layanan streaming Netflix pendek, dikhawatirkan akan mengurangi minat penonton untuk datang ke bioskop dan lebih memilih untuk menunggu sebentar lebih lama agar dapat menikmati film di kamar tidur mereka. Apalagi, harga tiket untuk kota besar seperti Los Angeles dan New York rata-rata adalah 15 dolar, hampir dua kali lipat dari layanan Netflix yang hanya sebesar 8 dolar per-bulan.

Meskipun begitu, ada juga bioskop-bioskop independen yang mau diajak bekerja sama dengan Netflix tanpa menuntut waktu penayangan eksklusif seperti di atas. Dan tentunya Netflix membutuhkan lebih banyak bioskop lagi.

Upaya Netflix ini tidak lain adalah untuk memperoleh piala Oscar –setelah meraih banyak penghargaan di Emmy Awards- dan juga mendekatkan diri pada talenta-talenta Hollywood. Sutradara kawakan Steven Spielberg pernah memberi pendapat tentang kebijakan streaming Netflix, bahwa tontonan-tontonan original Netflix hanyalah acara TV dan tidak memenuhi kualifikasi untuk Academy Awards.

Selain itu, talenta yang bekerja untuk Netflix seperti sutradara Alfonso Cuaron contohnya, juga mengharapkan karyanya dapat ditayangkan di layar  lebar. Dan langkah Netflix kali ini merupakan langkah yang cukup baik untuk menjawab semua itu.

Kepala divisi film Netflix, Scott Stuber juga memberi pernyataan tentang langkah Netflix ini. “Prioritas Netflix adalah member dan filmmaker kami, dan kami terus berinovasi untuk melayani mereka.” Ia juga menambahkan, “keuntungan bagi member kami adalah dapat menikmati film kualitas terbaik dari filmmaker kelas dunia.” Sementara untuk para pembuat film kata Stuber, tentu cakupan penonton Netflix yang tersebar di seluruh dunia merupakan sebuah keuntungan.

Bagaimana pendapat Kawan Kutu tentang langkah Netflix kali ini? Apakah ini merupakan win-win solution untuk semua pihak? Atau justru hanya bagi pihak tertentu saja sementara yang lain dirugikan?


Kutu Biru

Wanna die nyender