The Dark Knight Rises (2012): Perang Ideologi Batman dan Bane


Review Share to

Sutradara: Christopher Nolan
Penulis: Jonathan Nolan, Christoper Nolan, David S. Goyer
Pemeran: Christian Bale, Gary Oldman, Tom Hardy, Joseph Gordon-Levitt, Anna Hathaway, Marion Cotillard, Morgan Freeman, Michael Caine
Genre: Action, Thriller
Durasi: 164 menit

Credit: IMDb

Malam sudah cukup tua, saya memutuskan untuk mencoba menulis dengan metode mengingat, tidak akan saya gunakan mesin pencari ataupun lainnya yang sejenis untuk mereview film ini. Selain menguji daya ingat saya guna mempermahir keterampilan menulis, menulis dengan gaya mengingat ini dimaksudkan untuk mengukur seberapa kentalkah kesan yang ditimbulkan film ini di diri saya.

Menonton super hero bukanlah suatu hal yang asing buat semua orang, semua orang pasti punya superheronya masing-masing dari mulai tokoh fiksi seperti superman, batman, spiderman, naruto atau bahkan kapten tsubasa sampai tokoh di kehidupan nyata, biasanya orangtualah yang dianggap superhero bagi kebanyakan orang, tentu saja untuk saya pribadi.

Batman sendiri sudah ramah saya dengar ceritanya dari sejak saya masih diantar jemput oleh orang tua, sejak TK saya sudah punya miniatur batman dan robin dirumah, yang paling saya ingat adalah saya punya miniatur mobil musuhnya batman yang dingin itu, kalau tidak salah mr freeze namanya, tokoh yang diperankan oleh seorang gubernur di amerika sana. Kecintaan saya dengan batman hanyalah sebuah formalitas, karena dipikir pikir saya tidak punya tokoh superhero idola untuk di marvel, capcom, atau dc comic sedari kecil. Dulu tokoh anime anime jepang lebih mengundang fantasi heroik tersendiri.

Hingga nolan akhirnya menurunkan wahyu dan menyuruh saya untuk bersegera tobat untuk segera menasbihkan batman menjadi superhero idola saya. Dan lucunya wahyu itu datang di chapter terakhir trilogy batman, The Dark Knight Rises. The Dark Knight Rises lah yang menuntun saya untuk menyukai batman dan mendalami triloginya yang maha suci itu. Jika dipilih untuk mengurutkan mana yang paling baik diantara ketiga sekuel itu, saya masih belum bisa menemukan jawabannya hingga sekarang, saya masih bingung anatara The Dark Knight/ The Dark Knight Rises. Tapi jika ditanya, kesan mana yang paling mendalam? TDKR lah jawabannya

Film ini tidak hanya menyajikan pertempuran superhero dan villains seperti biasanya, dimana superhero selalu menang dan villains selalu kalah. Tidak, jauh dari itu, sangat jauh. TDKR lebih mengangkat nilai nilai manusiawi, mazhab mazhab pemikiran orang dan sosial kultural di gotham itu sendiri. Awal film ini saja bisa dibilang sudah bisa memicu adrenalin penonton dengan peristiwa penculikan oleh Bane. Bane, sendiri villain yang beda dari villain lainnya. Bane mempunyai ideologi, Bane mempunyai mazhab, Bane mempunyai umatnya sendiri, Bane punya tapakan hidup yang jelas. Sayang semua itu dirusak dengan scene ala romeo dan juliet di akhir film. Kalau dibandingkan dengan villain sebelumnya, yaitu joker, jelas sangat berbeda. Bane adalah orang birokrasi tulen, punya hierarki tersendiri dalam bertindak. Joker? I do What I Want.

Satu pertiga awal film ini menceritakan bagaimana bane mencoba membangun sistem dan menghancurkan kaum borjuis di gotham yang dianggapnya nista. Jikalau stalin masih hidup saya yakin bane sudah diangkat menjadi adik tirinya. Setelah itu, batman alias bruce wayne yang dikira sudah mati akhirnya dipanggil hidup kembali oleh anne hathaway. Dia perlu diberikan credit tersendiri bukan karena dia cantik atau sangat menggoda di film ini, tapi aktingnya sebagai partner in crime batman memang baik. Cerita maling malingan antara kaum proletar yang diperankan catwoman dengan kaum borjuis bruce wayne, akhirnya membawa batman kembali bangkit.

 

Credit: IMDb

Sebenarnya sebuah kebetulan saja batman bertemu dengan bane menurut saya. Toh bruce wayne masih ogah ogahan untuk kembali lagi ke dunia heroiknya, ditambah alfred yang berselisih paham dengan bruce wayne. Berlanjut, Bane akhirnya bisa menguasai kota dengan mencoba membuat kerusuhan di pasar saham. Bane ini benar benar orang kiri yang kuat sekali ya.

Dengan segala sesembahan pengikutnya, lambat laun Bane pun menguasai gotham dengan mengeluarkan penjahat kelas teri sampai kelas kakap untuk turun ke jalan, menuntut pembersihan kota gotham dari korup korup polisi dan borok borok para birokrat.

Sampai sampai scarecrow muncul lagi disini. Mau tidak mau jiwa malaikat christian bale pun terenyuh, akhirnya bale , joseph gordon levitt , gary oldman, morgan freeman dan juga dengan anne hathaway mencoba menaklukan tom hardy dan pengikutnya.

Sial bagi anak rumahan seperti batman, saat bertempur satu lawan satu melawan bane, batman bagai cucunguk yang diinjak oleh seorang janda. Dibuang ke sumur yang dalam, kalau tidak salah namanya lubang neraka atau apalah, lupa. hehe. Disitulah momen inspirasional saya diberikan oleh nolan, momen dimana bruce wayne berhasil keluar dari sumur itu adalah best moment di film itu. Nolan mengajarkan umat manusia sesuatu yang dinamakan Believe. Sebenarnya saya yakin orang orang didalam sana sebenarnya lebih kuat dari wayne, tapi kepercayaannya yang ngehe. Proses pembentukan kepercayaan bruce wayne inilah yang membuat saya angkat topi karena sukses mengangkat nilai sosial dan psikologis manusia. Terserah jikalau ini berlebihan, tapi propaganda nolan di scene ini masih berbekas di otak.

Bangkit dari sumur, bruce wayne kembali ke kota yang sudah dikuasai oleh kaum kaum proletar yang marah. Entah bagaimana ceritanya, TDKR meninggal sedikit borok disini. Ternyata bane yang selama ini saya kagumi disini, melakukan semua itu hanya demi sesuatu yang namanya cinta. Bane cinta dengan anaknya ras al ghul, dan rela melakukan apa saja demi dia. Sangat romantis, romantis yang mengganggu. Entah nolan sengaja membuat scene ini agar twist ataukah hanya ingin menyiratkan bahwa sebagus apapun ideologi anda, pasti akan kalah dengan yang namanya cinta. Saya pun tidak tahu. Yang jelas mengganggu.

Untungnya, borok itu segera diobati dengan double twist oleh nolan. Pertama, munculnya robin di akhir film yang ternyata joseph gordon levitt dan yang terakhir adalah ternyata pesawat yang membawa bom itu ternyata autopilot. Entah ada berapa kata ‘anjing’ yang keluar di bioskop itu, karena saking salutnya dengan ending yang dibuat nolan. Durasi hampir tiga jam itu terasa sangat cepat untuk saya, bahkan habisnya sebatang rokok pun saya rasa lebih lama.

Jika dicermati secara baik baik dan coba melepaskan penokohan batman bane dll, sebenarnya ini adalah cerminan dua pihak yang sedang melakukan pertempuran ideologi. Batman, dengan pihak pihak pemerintah, polisi,kaum atas gotham yang merasa gotham perlu dipertahankan tapi harus ada watch dog atau istilahnya yudikatif disana, melawan Bane, perwakilan dari kiri, kaum proletar, yang merupakan remeh dari sisa sisa gotham yang terbuang mencoba melakukan pembersihan gotham dari kaum kapital dan borjuis. Dan akhirnya siapa yang menang? Batman? Tidak. Bruce Wayne yang menang. Merasa sudah jengah dengan gotham yang sangat keparat kelakuannya, bruce wayne pura pura mati dengan membawa bom tersebut. “Biarkan gotham menuju kedamaian dengan tangan tangan tak terlihat” mungkin itu yang ada di benak bruce wayne jika saya boleh mengarang.

Interpretasi diatas adalah interpretasi saya, tanpa mesin pencari, tanpa bantuan, hanya mengandalkan memori, hanya mengandalakan kesan yang ditimbulkan sehabis menonton film ini. Bisa dilihat betapa melekatnya film supehero ini dalam otak saya, walaupun bentuknya bukan lagi film superhero tapi film perang ideologi dan perang sosial. TDKR mengajarkan nilai moral tinggi sekaligus nilai sosial yang acapkali dilupakan di era sekarang. yang jelas TDKR bukan film superhero biasa.

Satu yang saya khayalkan, jikalau kita sama sama menggeledah kamar bane dan bruce wayne pasti di kamar bane ditemukan buku das kapital disana , sedangkan di kamar bruce wayne ditemukan bukunya montesqiu dan adam smith disana. Kalau kamar anda?

*Review ini ditulis oleh Kutu Rambut


Kutu Butara

Biasanya demen nonton film ruang sempit dan serial crime/thriller.