Danur (2017): Mencoba Memanusiakan Hantu


Review Share to

Sutradara: Awi Suryadi

Penulis: Lele Laila, Ferry Lesmana

Pemeran: Prilly Latuconsina, Sandrinna Michelle, Indra Brotolaras, Shareefa Daanish, dan Asha Kenyeri

Genre: Horor

Durasi: 78 Menit

Sebelum berpanjang lebar, film ‘Danur’ adalah sebuah adaptasi dari buku karangan Risa Saraswati, musisi yang juga gemar menulis. Buku yang berjudul ‘Gerbang Dialog Danur’ itu bercerita tentang pengalaman supernatural yang dialami Risa sejak ia masih anak-anak.

Film ini dibuka dengan lantunan lagu ‘Boneka Abdi’. Lagu yang sekaligus berperan sebagai elemen penting dalam keseluruhan cerita ‘Danur’. Prilly Latuconsina, yang berperan sebagai Risa, melantunkan lagu ini sembari memainkan piano. Nuansa seram pun langsung terasa saat ia bernyanyi dengan perlahan, sembari meneteskan air mata.

Danur dan Kebutuhan Antagonis

Salah satu alasan mengapa saya tertarik untuk menonton film ini adalah karena kebetulan beberapa tahun lalu saya pernah membaca buku ‘Danur’. Buku pertama yang ditulis oleh Risa dan terbit pada 2011 lalu. Saya setuju dengan pendapat Soleh Solihun, bahwa ‘Danur’ bukanlah buku misteri namun tetap bisa membuat bulu kuduk merinding. Ketika ada berita tentang pembuatan filmnya pun saya langung jauh-jauh hari bertekad untuk menyaksikannya.

Oh ya, kira-kira Kawan Kutu tahu apa arti ‘danur’? Memang kata ini termasuk jarang digunakan dan terkesan asing ya. Menurut pengertian dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘danur’ adalah air yang keluar dari bangkai (mayat) yang sudah membusuk.

Tentu ‘danur’ bukanlah sebuah kata yang akan dengan mudah muncul di obrolan sehari-hari. Lagipula belum tentu semua orang tahu bentuk atau bau danur itu seperti apa. Jadi ya wajar sepertinya jika kata ini terdengar asing. Bahkan seingat saya, kata tersebut juga jarang digunakan di film-film horor. Mungkin kalau film ini bukan diambil dari bukunya Risa, bisa jadi judulnya tak akan menggunakan kata ‘danur’.

Risa menyematkan sebuah kalimat yang merangkum kaitan danur dengan yang ia alami dalam pembuka bukunya. “Ketika penciumanku tertutup sedang mata hati terbuka lebar untuk yang biasa kalian sebut…Hantu.” Dari sini sebenarnya Risa telah memberi tanda bahwa cerita ‘Danur’ bukanlah seperti pengalaman supernatural pada umumnya.

Namun sayangnya, film yang saya saksikan sepertinya agak kesulitan untuk menghadirkan pengalaman supernatural yang “berbeda” a la Risa. Karena jika kalian penggemar film horor, cepat atau lambat akan sadar bahwa film ‘Danur’ seolah tak ada bedanya dengan cerita film lainnya.

Masalah ini mungkin hadir karena perbedaan pendekatan dalam mengangkat kisah Risa. Ya, sejujurnya saya juga belum membaca ‘Gerbang Dialog Danur’, jadi saya tak tahu persis apa yang ada di dalam buku itu. Agak sulit memang untuk membahasnya.

Walau begitu, salah satu kelemahan yang saya rasakan dari film ini adalah mudah tertebaknya jalan cerita. Contohnya seperti kehadiran Mbak Asih yang diperankan oleh Shareefa Danish. Nah, kira-kira apakah kalian tahu karakter apa yang diperankannya? Ya, kasarnya ketika saya sedang menonton film horor, lalu ada Shareefa Danish, kemungkinan untuk menebak dirinya akan berperan sebagai wanita lemah yang berteriak-teriak, mungkin hampir tidak ada.

Hal lainnya adalah permasalahan yang biasa hadir dalam film horor, yaitu lemahnya karakter antagonis. Dalam sebuah cerita, sosok antagonis memang diperlukan. Salah satu fungsinya adalah untuk menghadirkan konflik ke dalam cerita. Nah dalam film horor, peran antagonis tentunya diberikan pada sosok yang menghadirkan rasa takut. Apa pun bentuknya, entah itu hantu, zombie, seorang pembunuh berantai, dan lainnya.

Nah, seperti pada film horor pada umumnya, kemungkinan untuk mengetahui penyebab dan motif si antagonis di awal dan tengah-tengah film tentu sangat kecil. Hal inilah yang menurut saya membuat film ‘Danur’ menjadi kurang istimewa. Ya hal itu juga salah satu alasan mengapa film horor sulit bersaing dengan film-film drama pada umumnya. Karena ceritanya yang terlihat “tipis”.

Saya juga agak kecewa dengan detail yang kurang dimaksimalkan. Contohnya seperti pada awal film, mungkin dari yang sudah menonton tak menyadari latar film ini berada di mana dan waktunya kapan. Hanya tiba-tiba langsung mencoba menakuti penonton dengan adegan ‘Boneka Abdi’. Hal-hal detail seperti itu yang menurut saya penting, lagipula film ini juga berdasarkan kisah nyata kan.

Meski begitu, sebagai orang yang penakut, menurut saya ‘Danur’ adalah sebuah film horor yang bagus. Ya sesuai dengan asal-usul horor, yaitu seni yang mengeksploitasi rasa takut para penikmatnya. ‘Danur’ memang mencekam sepanjang film. Seakan-akan saya ini tak diperbolehkan untuk mengatur nafas sejenak.

Dari segi akting, Prilly Latuconsina menampilkan performa yang bagus menurut saya. Dari beberapa adegan ketika dia harus berteriak ketakutan atau menangis pun tak terasa dilebih-lebihkan. Berbeda sedikit dengan apa yang dihadirkannya dalam sinetron. Selain Prilly, pemeran dengan penampilan yang memukai adalah Shareefa Daanish. Ya kalian tahulah alasannya mengapa.

Kekecewaan saya sebenarnya dari segi pendekatan cerita yang ditampilkan di sini. Di sini, Peter dan lainnya memang digambarkan dengan baik. Hanya saja kurang dieksploitasi lebih dalam lagi. Karena menurut saya, penggambaran yang dilakukan ketika Risa masih kecil itu menurut saya sesuatu yang bagus.

Ada seorang anak yang “bermain” dengan makhluk halus. Namun berbeda dengan hantu yang biasa digambarkan di film horor pada umumnya, pengalaman Risa mengenai Peter dkk adalah lebih kepada ikatan persahabatan. Sebuah ikatan yang menembus dimensi dua dunia yang berbeda.

Padahal sejak bukunya yang pertama, Risa terbilang berhasil dalam “memanusiakan” hantu melalui tulisannya. Hal itu memang dicoba dalam awal-awal film. Namun sayang hal yang membuat cerita ‘Danur’ istimewa harus mengalah karena kehadiran Mbak Asih.

Secara keseluruhan, menurut saya ‘Danur’ adalah sebuah karya mencekam yang tanggung dari segi kedalaman cerita. Di satu sisi bisa menyeramkan, di satu sisi kita kebingungan. Kita dibuat kaget berkali-kali sekaligus bertanya-tanya di berbagai kesempatan.

Rating: 6.5/10


Kutu Kasur

"Most of us are losers most of the time, if you think about it." - Richard Linklater