Setelah Konflik, Festival Film Terbesar di Asia Bangkit Kembali


News Share to

Sejak penyelenggaraan pertamanya pada tahun 1996, Busan International Film Festival telah tumbuh menjadi festival film terbesar dan paling prestisius se-Asia. Festival tersebut tentu diadakan di kota megapolitan, Busan (Pusan) yang terletak di Korea Selatan.

Busan International Film Festival ke-23 kali ini akan diadakan mulai tanggal 4 hingga 13 Oktober 2018. Selama penyelenggaraannya, akan dilakukan screening terhadap 324 film dari 79 negara, dengan 115 di antaranya merupakan world premiere (85 film panjang, 30 film pendek). Festival kali ini diadakan di 5 teater dengan total 30 layar.

Festival tahun ini dapat dibilang spesial. Kembalinya Lee Yong-Kwan dan Jay Jeon ke dalam jajaran tim penyelenggara festival sebagai Direktur Eksekutif dan Direktur Festival merupakan tanda telah selesainya konflik yang melanda Busan International Film Festival sejak 2014 lalu.

Penyebab konflik tersebut adalah karena penolakan festival untuk menghentikan screening terhadap film The Truth Shall Not Sink With Sewol. Film dokumenter tersebut mengkritik cara penanganan pemerintah terhadap kejadian tenggelamnya kapal feri Sewol, yang menewaskan sekitar 300 orang dan sebagian besar adalah anak-anak. Salah satu tragedi paling traumatik di Korea Selatan.

Penolakan untuk menghentikan screening tersebut menyebabkan dipotongnya dana yang biasanya dikucurkan oleh pemerintah Kota Busan serta dituntutnya Lee Yong-Kwan dan beberapa penanggung jawab festival lainnya ke pengadilan. Sementara, para sineas dan komunitas lokal tak sedikit yang menyatakan boikot terhadap Busan International Film Festival.

Meskipun tetap berjalan setiap tahunnya, Busan International Film Festival 2018 ini merupakan ajang “reuni” dan pemulihan setelah perkara politis yang melandanya tersebut.

“Edisi festival kali ini adalah reuni,” Ujar Lee Yong-Kwan “Tahun ini tentang pemulihan dan pengembalian status kami, ini tentang pengembangan dan reformasi.”

Festival dibuka dengan world premiere film karya sutradara asal Korea Selatan, Yun Jero, yang berjudul Beautiful Days. Film tersebut berkisah tentang sebuah keluarga asal Korea Utara yang akhirnya berkumpul kembali setelah sempat ditinggalkan sang ibu yang kabur ke Korea Selatan untuk hidup yang lebih baik.

Beautiful Days (Busan International Film Festival)

Sementara itu film Indonesia yang berangkat ke Busan tahun ini antara lain adalah The Song of Grassroots, film dokumenter tentang kehidupan anak aktivis HAM Wiji Thukul, Fajar Merah dan keluarganya karya Yuda Kurniawan. Peraih penghargaan di Venice Film Festival, Kado (A Gift) karya Aditya Ahmad, “Kucumbu Tubuh Indahku (Memories of My Body)” karya Garin Nugroho, dan lainnya.

Fajar Merah dalam The Song of Grassroots (Busan International Film Festival)

Peraih penghargaan The Asian Filmmaker of the Year tahun ini adalah Sakamoto Ryuichi, musisi/komposer asal Jepang. Ryuichi merupakan komposer untuk film The Revenant (2015) dan banyak film-film peraih penghargaan lainnya.

Festival ditutup dengan pemutaran film terbaru karya sineas Hong Kong, Yuen Woo-ping yang berjudul Master Z: The IP Man Legacy. Selain itu, festival juga mengadakan program baru bertajuk Busan Classics, yang menayangkan banyak film-film Asia dari masa terdahulu.


Kutu Biru

Wanna die nyender