Black Panther (2018): Long Live The King


Review Share to
Sutradara: Ryan Coogler
Penulis: Ryan Coogler, Joe Robert Cole
Pemeran: Chadwick Boseman, Michael B. Jordan, Lupita Nyong'o, Danai Gurira, Martin Freeman, Daniel Kaluuya, Forest Whitaker, Winston Duke
Genre: Superheroes, Action, Fantasy
Durasi: 138 Menit

“WAKANDA FOREVER!!”

Kalimat tersebut sudah bersarang di pikiran saya semenjak trailer awal film yang dinahkodai oleh Ryan Coogler ini rilis. Ucapan yang dilantangkan oleh Chadwick Boseman dengan logat khasnya tersebut berhasil mencuri perhatian khalayak untuk tertarik akan sosok T’Challa, Pangeran Wakanda, Sang Black Panther. Kemunculan Black Panther sebagai cameo dengan jatah panggung cukup banyak dan salah satu karakter kunci untuk jalinan cerita MCU pada Civil War, membuat Marvel dirasa harus memberikan cerita khusus mengenai latar belakang karakter, yang sebelumnya diketahui tinggal di “negara yang miskin” ini sebagai jembatan utama untuk tiba pada finale mereka, yakni Infinity War.

Pada faktanya, secara tersembunyi Wakanda bukanlah negara dunia ketiga dengan keterbelakangan ekonomi. Vibranium, yang merupakan salah satu metal paling kuat dalam dunia Marvel, yang menjadi bahan dasar tameng milik Captain America serta cikal bakal Adamantium yang tertanam pada tubuh Wolverine, merupakan sumber daya utama yang juga melimpah milik Wakanda yang tersembunyi dari dunia luar. T’Chaka, ayah dari T’Challa yang diceritakan telah tewas secara tragis pada event Civil War, mencegah dunia luar tahu tentang keberadaan Vibranium guna melindungi Wakanda dari eksploitasi serta menjaga Vibranium agar tidak jatuh ke tangan yang salah.

“Black Panther” sebenarnya memiliki alur yang linear. Lurus tanpa ada selipan kejutan maupun twist-twist mencengangkan, bahkan sejujurnya secara plot/cerita, film ini terlalu mudah ditebak arah serta jalinan ceritanya. Namun ada hal lain yang membuat Black Panther memiliki karakter tersendiri, yang membuat plot yang terbuka tersebut cukup memberi impresi yang kuat dan menyelamatkan Black Panther dari cerita yang monoton bagi saya, salah satunya adalah budaya Afrika, lebih tepatnya Wakanda, yang ditampilkan (meskipun sebetulnya budaya fiktif).

Ada elemen tersendiri yang menyihir jalannya cerita dari bagaimana Budaya Wakanda benar-benar menjadi sebuah kiblat dari setiap pilihan serta momen yang terjadi pada film ini. Ritual pertarungan guna pengukuhan raja misalnya. Saya melihat ritual ini lebih dari sekadar pertarungan semata, masing-masing suku diberi kesempatan untuk mengajukan penantang untuk calon raja guna memperebutkan mahkota. Kepercayaan dari setiap suku pada calon raja kemudian diperlihatkan dengan merelakan kesempatan tersebut tanpa mengirim perwakilan mereka.

Musik pengiring dengan tabuhan genderang ala Afrika pun seolah mengajak kita untuk menyelam lebih dalam seiring ditampilkannya prosesi pengukuhan sang raja sebagai Black Panther dengan “dikirimnya” arwah sang raja untuk menemui pendahulunya guna menyempurnakan pengukuhan mereka. Karakterisasi yang dibentuk oleh masing-masing cast pun dapat digambarkan dengan detail. Bukan hal yang aneh memang mengingat disamping Chadwick Boseman, film ini didukung taburan pemain dengan talenta mumpuni. Nama-nama seperti Michael B Jordan, Daniel Kaluuya, Danai Gurira, Lupita Nyong’oLetitia Wright, Martin Freeman, dan Forest Whitaker turut ambil peran dalam film ini.

Selain itu, cerita Black Panther cukup kaya dan padat. Penokohan yang kuat dipadu dengan jalinan cerita yang rapi serta fokus. Nyaris tidak ada plot hole pada cerita yang disampaikan. Unsur politik yang juga diangkat pada film ini membuat film bertambah menarik. Sinematografi ciamik serta presentasi Wakanda digambarkan dengan amat detail dan memukau. Ryan Coogler mampu membawa Black Panther tetap dalam track sehingga hampir seolah tidak ada adegan yang mubazir.

Unsur komedi yang diselipkan pun pas dan ditempatkan pada momen yang tepat sehingga dapat menjaga alur tetap stabil. Scoring yang digarap oleh Ludwig Göransson yang juga sebelumnya bekerja sama dengan Ryan Coogler dalam menangani film Creed, dilakukan dengan cukup baik serta mampu menambah suasana Afrika ala Wakanda. Adegan kekerasan yang menjadi bumbu tambahan digarap dengan cukup serius, serta dieksekusi dengan tampilan yang vivid sehingga setiap pukulan, sabetan, dan tusukan pada pertempuran yang terjadi, seolah dapat dirasakan langsung oleh penonton.

Kekurangan yang saya catat di film ini adalah kurangnya pendalaman lebih detail untuk karakter Killmonger yang merupakan villain utama bagi Black Panther serta ada beberapa scene pada momen Kilmonger tiba di Wakanda yang terasa dieksekusi sedikit terburu-buru. Namun hal tersebut tertutup dengan solidnya jalan cerita serta inti cerita yang tersampaikan secara pas.

Black Panther bagi saya merupakan film yang memiliki dasar yang kokoh dan memiliki jalinan cerita yang kuat, dan merupakan salah satu film Marvel terbaik yang pernah diproduksi. Film ini pun merupakan seri Marvel yang “harus ada” karena menjadi kunci bagi event Infinity War, dimana Wakanda sepertinya akan memegang peranan penting bagi finale The Avengers yang akan tayang pada Mei mendatang. 2 buah after credit sebagai sajian penutup pun memberikan sedikit gambaran tentang peranan T’Challa pada Infinity War nanti.

A solid entertaining movie. All Hail The King.

Memorable Line: “WAKANDA FOREVER!” -Almost every people in Wakanda.


Kutu Klimis

Just sit and talk about football, Manchester United, or movies, and we will be good buddies in no time.