Balada Fans dan Rotten Tomatoes: Fanatisme Salah Sasaran


Opini Share to

Pertama-tama saya menulis ini bukan dengan maksud mencibir, memanas-manasi, atau mencoba menggurui. Saya hanya ingin mencoba untuk meluruskan hal yang sedikit “belok” yang saat ini sedang terjadi.

Pagi tadi saya sedikit terbelalak melihat timeline di aplikasi Line saya dan beberapa aplikasi sosial media lain, tentang “petisi menutup Rotten Tomatoes” yang disebarkan oleh beberapa akun yang juga saya follow. Hal ini dipicu oleh (lagi-lagi) buruknya rating film DC yang baru dirilis, Suicide Squad.

Saya mencoba terdiam sejenak, lalu merasa, mungkin ini bagian dari sarkasme. Namun setelah hari ini hampir berlalu, dan saya selesai menyaksikan film yang menjadi pemicu petisi tersebut, lalu kemudian mereviewnya, ternyata petisi tersebut bukan main-main, dan mungkin ada beberapa fans di Indonesia yang mungkin ikut “bernafsu” mengisi petisi tersebut.

Jika saya mengutip perkataan Barry Allen kepada Bruce di trailer terbaru Justice League, “Stop right there”. Jangan keburu nafsu mengisi petisi tersebut. Kenapa?
Karena faktanya, Rotten Tomatoes adalah sebuah web aggregator, bukan sebuah web review. Ada yang paham bedanya?

Web review bisa dikatakan seperti kami yang melakukan review serta ulasan detail mengenai sebuah film, membahasnya secara(tidak terlalu)mendalam, mengupas beberapa aspeknya, dan memberi output berupa kesimpulan berbentuk skor/rating. Nah, Rotten Tomatoes, adalah(salah satu)web yang mengumpulkan output-output tersebut dari beberapa sumber, mengolahnya, dan menggabungkannya menjadi rating. Untuk lebih detail mengenai Rotten, bisa Kawan Kutu browsing lebih dalam dengan memasukkan keywordnya di Google.

Di mana letak kesalahan persepsinya? Letaknya ialah ketika Rotten memasang angka prosentase film, itu merupakan angka gabungan dari beberapa web review dan reviewer yang mereka compile dan mereka olah. Mereka memiliki sistem Like dan Top review untuk reviewnya dapat masuk dan dihitung ke dalam prosentase. Rotten tidak menyajikan review, mereka menjadi wadah bagi para reviewer untuk “menyumbang” angka penilaian terhadap sebuah judul film.

Sayangnya, hari ini saya ditunjukkan sebuah fanatisme “buta”, dimana kebanyakan dari mereka berfokus pada angka, dan tidak melihat asal-usul jelas mengenai angka tersebut. Menuduh “ada yang tidak beres” saat Rotten justru sahamnya 30% dimiliki oleh WB, yang notabene studio yang memproduksi film-film DC.

Saya bukan antek-antek Rotten(apalagi antek wahyudi), saya hanya mencoba meluruskan. Bila para fans ingin “marah”, atau memberi “peninggalan kata-kata”, web seperti kami lah yang seharusnya menerimanya, karena web reviewer lah yang mereview, bukan Rotten.

Jadilah kritis dalam berpendapat.
Tapi jangan “kritis” dalam memiliki sikap.

Cheerio


Kutu Kasur

"Most of us are losers most of the time, if you think about it." - Richard Linklater