Baby Driver (2017): Keselarasan antara Scene dan Musik


Review Share to
Sutradara: Edgar Wright
Penulis: Edgar Wright
Pemeran: Ansel Elgort, Kevin Spacey, Jon Hamm, Jamie Fox
Genre: Action, Crime
Durasi: 113 Menit

Saat menonton trailer ini saya langsung menyimpulkan: “Seorang supir pelarian kriminal yang pendiam dan diiringi soundtrack yang keren”. Entah mengapa saya begitu familiar dengan film dengan tema seperti ini, saya pun sampai tidak bisa tidur mencoba memecahkan kasus misteri paling heboh sepanjang abad yang akhirnya berujung dengan teriakan “AHA!” pada tengah malam yang membangunkan semua orang dalam rumah. Film Drive (2011) dibintangi Ryan Gosling dan disutradai Nicholas Wending Refn ternyata memiliki ide yang “hampir” sama.

Saya pun sempat skeptis apakah Edgar Wright bisa mengangkat film yang memiliki tema yang mirip, setelah saya selesai menonton film ini, keskeptisan saya pun terpatahkan karena saya bisa melihat kembali kejeniusan Edgar Wright dalam mengolah transisi scene dan keselerasan musik. Sangat disayangkan memang kenapa kejeniusan Edgar Wright dalam penyutradaraan belum juga mendapatkan nominasi penghargaan bergengsi seperti Golden Globe atau bahkan Piala Oscar.

Kejeniusan Edgar Wright adalah bagaimana dia mengolah suatu adegan terutama tiap transisi seirama dengan musik score yang dibuat, ini ditunjukan bukan hanya dalam film Baby Driver, tetapi juga film-film lain yang disutradarainya seperti Shaun of The Dead, Hot Fuzz, The World’s End sampai film favorit saya: Scott Pilgrim Vs The World.

Edgar Wright pun mempunyai arah yang berbeda dengan Nicholas Wending Refn dalam penyutradaraan, dimana kedua karakter “Driver” yang diperankan Ryan Gosling dan “Baby” yang diperankan Ansel Elgort begitu berbeda. Plot film pun dibuat dengan sedemikian rapi dengan transisi adegan halus dilengkapi dengan perkembangan karakter yang mumpuni. Dalam film ini Kawan Kutu pasti tidak akan bisa menebak siapa antagonis karena tiap karakter mempunyai “kedalamannya” sendiri. Dari yang semula kita mengira Doc itu antagonis dan Buddy itu semacam “kawan terdekat” yang dimiliki Baby. Ternyata semua itu berubah saat Kawan Kutu menonton film ini, bahkan orang terdekat pun bisa menjadi antagonis.

Kerennya ending pun ditutup dengan ending yang sempurna, tidak ada ending klise dimana mereka¬† berhasil hidup bahagia selamanya, disinilah kekuatan Edgar Wright ditunjukkan. Selalu mengakhiri suatu film dengan ending yang tidak klise, sehingga kita penonton selalu dihadapkan “Duh, ending nya gimana ooyah ntar?” Kita terus menerka-nerka ending apa yang diambil “Mereka berhasil ga yah?” Walaupun ending yang ditawarkan sedikit “berbeda” tapi saya tetap puas dengan ending yang ada. Menurut saya mereka adalah “Modern Bonnie & Clyde”. Endingnya pun menurut saya hampir serupa dengan film Bonnie & Clyde tahun 1967 yang dibintangi oleh Warren Beatty dan Faye Dunaway. sekalipun tidak se”tragis”

Saya pun memberikan kredit tersendiri kepada pilihan cast yang baik, dari Ansel Elgort yang karirnya semakin meningkat semenjak di film trilogi Divergent,¬†saya pun sempat mengira karir Ansel hanya akan sampai pada “Aktor yang mengandalkan tampang” yang akhirnya akan hilang ditelan waktu. Jon Hamm pun yang karirnya sempat “tenggelam” karena serial TV Drama periodik Mad Men telah usai, akhirnya juga bisa membuktikan dia masih memiliki “star power”

Film ini pun secara komersil berhasil meraup untung 226 juta dollar dari budget 34 juta dollar dan ini menandakan karir Edgar Wright sebagai sutradara semakin meroket dan tidak heran Edgar akan merencanakan sekuel dari film yang dirilis pada bulan Juni ini. Kalo Kawan Kutu belum nonton, tonton ini segera!

Rating: 9/10


Kutu Kamar

Penulis serta penjelajah juga idealis & semua pasti dijamah.