Audrey Hepburn: One of the Hollywood’s Greatest Female


Tokoh dan Sejarah Share to

Kawan Kutu tentu tak asing dengan nama Audrey Hepburn. Namanya memang begitu mendunia, tak hanya dari kariernya sebagai aktris Hollywood saja, tetapi juga Audrey Hepburn telah menjadi salah satu wanita yang ikonik. Dengan paras yang menawan, Hepburn nyatanya tak hanya dikenal dari fisiknya, tetapi juga kegigihannya untuk membantu orang-orang di berbagai belahan dunia.

Audrey Kathleen Ruston lahir pada 4 Mei 1929 di Brussels, Belgia dari Joseph Ruston dan Ella van Heemstra. Nama Hepburn sendiri berasal dari nama Belgianya, Edda Kathleen Hepburn-Ruston. Kata Hepburn diwarisi dari sang Ayah, yang mengubah namanya setelah ia merasa bahwa dirinya adalah keturunan James Hepburn, suami Mary I of Scotland.

Sebagian besar masa kecil Hepburn berada di ranah Britania dan mengenyam pendidikan di Elham. Ketika Perang Dunia II pecah, dia dan ibunya pindah ke Belanda dengan harapan negara itu tetap netral dan terhindar dari serangan Jerman. Hepburn pun melanjutkan studinya di Arnhem Conservatory. Ketika Jerman menyerang, Hepburn dan ibunya kesulitan untuk bertahan hidup. Audrey juga dikabarkan ikut membantu perlawanan sebagai penyampai pesan.

Audrey dan Gregory Peck di Roman Holiday (1953)

Saat perang usai, Hepburn melanjutkan untuk mengejar impiannya di bidang seni tari. Dia akhirnya mempelajari Tari Balet di Amsterdam, lalu melanjutkannya di London. Pada 1948, Hepburn melakukan debut panggungnya sebagai anggota paduan suara di drama musikal, High Button Shoes. Dua tahun kemudian, dia akhirnya mendapat peran besar di Sauce Piquante.

Di tahun yang sama, Hepburn juga merambah dunia perfilman dengan peran-peran kecil di One Wild Oat, Laughter in Paradise, Young Wives’ Tale, dan The Lavender Hill Mob. Sebelum akhirnya dia mendapat peran pendukung yang lebih besar di The Secret People (1962). Di film tersebut, dia berperan sebagai balerina dan melakukan adegan tariannya sendiri tanpa pemeran pengganti.

Kesuksesan Audrey hadir ketika ia berhasil mendapat peran besar di Roman Holiday (1953). Jauh di luar dugaan, dia meraih berbagai penghargaan mulai dari BAFTA, Golden Globe, hingga Oscar kategori Best Actress in a Leading Role. Bisa dibilang dari film inilah awal kepopuleran Audrey Hepburn.

Selepas Roman Holiday, kariernya terbilang stabil bahkan terus melejit. Hal ini dibuktikan dari namanya yang sering menghiasi deretan nominasi untuk berbagai penghargaan. Sebutlah film-filmnya seperti Sabrina (1954), The Nun’s Story (1959), Breakfast at Tiffany’s (1961), dan juga Wait Until Dark (1967).

Melewati tahun 1967, Audrey memutuskan untuk menghabiskan waktunya untuk keluarga. Dia pun semakin jarang untuk mengambil pekerjaan sebagai aktris film. Bisa dibilang dia memasuki fase semi pensiun. Namun sembilan tahun kemudian, dia kembali untuk film Robin and Marian. Setelah itu, tercatat Hepburn hanya berlaga di tiga film saja. Penampilan terakhirnya di layar lebar adalah Always (1989), yang disutradarai oleh Steven Spielberg.

Audrey Hepburn di film Breakfast at Tiffany’s (1961)

Kemunduran Audrey Hepburn memang disayangkan banyak orang, terutama para penggemarnya. Selain perihal keluarga, alasan terbesar dirinya untuk mundur adalah rasa pedulinya terhadap sesama manusia, terutama nasib para anak-anak. Pada akhirnya, dia mulai mengabdikan diri pada masyarakat dunia bersama UNICEF.

Kekhawatiran Audrey memang beralasan. Karena dia sendiri pernah mengalami masa-masa buruk ketika masih kecil. Masa di mana Audrey Hepburn merasa kelaparan dan selalu terancam akibat perang. Bersama UNICEF, Audrey menjadi bagian dari berbagai proyek kemanusiaan di Asia, Afrika, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan.

Pada 1993, Academy Award memberikan penghargaan khusus untuk pengabdiannya pada kemanusiaan. Namun sayangnya, Audrey telah lebih dulu meninggalkan dunia pada 20 Januari di tahun yang sama. Audrey meninggal setelah berjuang melawan kanker.

Meski telah tiada, namun Audrey Hepburn telah meninggalkan banyak hal. Pengaruhnya di bidang fashion bahkan masih ada hingga saat ini. Banyak majalah yang sering merekomendasikan pembacanya untuk melihat bagaimana penampilan Audrey Hepburn. Bahkan survey yang dilakukan Evian di tahun 2004, dia dinobatkan menjadi ‘most beautiful woman of all time’.

Audrey adalah salah satu dari sedikit bintang yang pernah memenangkan Oscar, Emmy, Grammy, dan Tony Awards selama kariernya. American Film Institute pun memasukkan namanya ke dalam Greatest Female Stars of All Time. Perjuangannya untuk kemanusiaan pun tidak berhenti sepeninggalannya. Anak Hepburn, Sean Ferrer dan Luca Dotti akhirnya memutuskan untuk membuat Audrey Hepburn Memorial Fund di UNICEF.

Ya, tak semua manusia beruntung seperti Audrey Hepburn. Hidupnya seolah-olah begitu sempurna, paras yang menawan, karier yang fantastis, menjadi ikon fashion, hingga kerendahan hatinya untuk membantu orang lain. Namun kita harus sadar, bahwa itu semua diraihnya setelah melewati masa kecil yang kelam. Masa di mana Audrey Hepburn merasa ketakutan dan kesulitan untuk bertahan hidup akibat perang.


Kutu Kasur

"Most of us are losers most of the time, if you think about it." - Richard Linklater