Abracadabra (2020): Ketidaktahuan itu Ajaib


Review Share to
Film Abracadabra (2020)/Sumber: cultura.id

Sutradara: Faozan Rizal
Penulis: Faozan Rizal
Pemeran: Reza Rahadian, Butet Kartaredjasa, Salvita Decorte, Asmara Abigail, Lukman Sardi, dll.
Genre: Drama, Fantasi
Durasi: 86 Menit

Sulap adalah suatu seni yang unik. Karena bagi saya, daya tarik utama sulap hadir dari sebuah rahasia. Seni ini seolah-olah mengeksploitasi kejutan dan rasa penasaran audiens. Ya, aneh juga dipikir-pikir. Mengapa saya bisa menikmati ketidaktahuan, ya?

Sudah lama saya tak menyaksikan pertunjukan sulap, hingga tadi malam kembali bersinggungan lagi dengan seni ini. Walaupun terjadi secara tak langsung melalui film Abracadabra, tetapi cukup untuk mengingatkan betapa menyenangkannya sulap itu.

Film Abracadabra yang digarap oleh Faozan Rizal tersebut memang berkutat tentang sulap. Bercerita tentang Lukman (Reza Rahadian), pesulap ulung yang ingin mencoba trik terakhirnya menggunakan sebuah kotak kayu besar peninggalan sang ayah.

Kotak itu digunakan untuk menghilangkan objek yang disimpan di dalamnya. Sebuah trik sederhana dari pesulap. Namun apa yang dilakukan Lukman ternyata jauh lebih kompleks. Karena anak lelaki yang masuk ke dalam kotak itu, tak kembali lagi. Tentunya itu di luar dugaan Lukman.

Pembuktian Faozan Rizal

Film ini saya bilang seperti sebuah pembuktian dari Faozan Rizal. Beliau selama ini dikenal sebagai sinematografer papan atas di Indonesia. Beberapa kali ia menyabet penghargaan dan nominasi melalui film Salawaku (2016), Kartini (2017), Sang Pencerah (2010), dll.

Pengalamannya sebagai sinematografer jugalah yang meyakinkan saya mengapa film ini begitu mencolok visualnya. Abracadabra dipenuhi oleh warna mencolok dan kontras. Banyak adegan yang latarnya didominasi oleh satu warna. Salah satu contohnya adalah kantor polisi yang bernuansa pink. Mulai dari cat tembok hingga mesin tik semuanya memiliki warna pink.

Warna yang mencolok itu dikombinasikan dengan tata busana yang juga spesial. Seperti seragam para polisi yang menyerupai seragam khas petinggi Jerman di Perang Dunia II dan para karakter pesulap lain yang mengenakan pakaian ala bangsawan Eropa zaman dahulu.

Perpaduan warna-warni latar dan busana yang mencolok mempertegas elemen fantasi Abracadabra. Dan tentu saja gaya visual film ini mengingatkan kita pada Wes Anderson. Ya, lengkap dengan komedi teatrikalnya.

Premis Asik, Eksplorasi Tokoh Masih Lemah

Dari segi cerita, Abracadabra sebenarnya punya premis menarik. Tentang pesulap yang dikejutkan dengan sebuah benda ajaib. Nuansa fantasinya sangat kental dengan penambahan unsur geografis fiksi seperti “Pantai Rahasia” dan sebagainya.

Hanya saja sangat disayangkan eksplorasi tokohnya kurang kuat. Terutama pada karakter-karakter pendukung. Contohnya adalah trio pesulap Lukman Sardi, Poppy Sovia, dan Paul Augusta. Secara karakter, mereka punya potensi besar. Karena di adegan-adegan awal, mereka menimbulkan kesan kuat. Padahal saya sempat berharap mereka akan menjadi semacam sidekick untuk Lukman dan melakukan petualangan besar mencari rahasia kotak ajaib itu.

Contoh lainnya adalah pada sosok peramal kembar. Memang mereka baru terungkap di sepertiga akhir cerita. Namun melihat situasinya, sangat disayangkan kita sulit mengenal mereka lebih jauh. Padahal banyak adegan yang menunjukkan bahwa mereka punya peranan penting di dalam cerita.

Selain itu, ada beberapa adegan yang membuat kita bertanya-tanya. “Kok jadi begini ya?”, “Kenapa tiba-tiba jadi seperti itu?” Pertanyaan-pertanyaan itu yang sempat membuat saya bingung dan sedikit hilang fokus.

*****

Secara keseluruhan, Abracadabra adalah film yang menyenangkan. Tak masalah jika Faozan Rizal memang sengaja mengadaptasi gaya Wes Anderson ini. Justru saya senang karena membuktikan kalau di Indonesia ada juga yang bisa membuat film dengan gaya visual seperti itu. Langkah yang berani.

Oh ya, saya senang dengan sisipan-sisipan pesan di dalam film ini. Seperti tentang pelestarian harimau Sumatra yang tebal, terutama di awal-awal film. Mulai dari kemunculan harimaunya itu sendiri hingga artikel di koran yang dibaca oleh si kepala polisi.

Terlepas dari adanya kejanggalan-kejanggalan yang sulit dijelaskan di film ini, sebenarnya saya tak terlalu mempermasalahkan. Toh, bukankah ketidaktahuan adalah inti dari seni sulap? Jadi, silakan menikmati rasa penasaran dan keheranan yang melanda setelah menonton Abracadabra.

Terakhir, 3 frasa untuk film Abracadabra:

Cantik. Berani. Sedikit Membosankan.


Kutu Kasur

"Most of us are losers most of the time, if you think about it." - Richard Linklater