5 Film Indonesia tentang Sosok Ayah


Featured Share to

 

 

Tahun 2006 lalu, Indonesia menetapkan tanggal 12 November sebagai Hari Ayah Nasional. Uniknya, ide ini tak muncul dari para ayah di Indonesia melainkan dari kaum ibu. Lebih tepatnya adalah para ibu yang tergabung dalam Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi (PPIP).

Seperti yang dilansir dari Liputan 6, Gress Raja, selaku Ketua PPIP pada saat itu, mengatakan bahwa peringatan ini lahir dari pandangan tentang figur ayah yang memiliki peran penting dalam pembentukan karakter keluarga. Ya, orang tua atau ayah dan ibu adalah kesatuan yang tak terpisahkan.

Gagasan tersebut pun diwujudkan dengan deklarasi peringatan Hari Ayah pada 12 November 2006, di Pendapi Gede Balaikota Solo, Jawa Tengah. Mereka juga mengirimkan piagam deklarasi tersebut kepada mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Selain itu, pihak PPIP juga memberikan kepada bupati di 4 penjuru Indonesia yaitu Sabang (Aceh), Merauke (Papua), Sangihe Talaud (Sulawesi Utara), dan Pulau Rote (Nusa Tenggara Timur).

Lalu bagaimana dengan sosok ayah di film Indonesia? Tentu ada juga beberapa film yang ceritanya berfokus pada sosok seorang ayah. Bahkan ada juga film-film yang membahas tentang hubungan ayah dengan anaknya.

Untuk memperingati Hari Ayah Nasional, Kutu Film telah merangkum beberapa judul film Indonesia yang membahas tentang sosok seorang Ayah:

1. Sabtu Bersama Bapak (2016)

Bila berbicara soal film dan ayah, rasanya Sabtu Bersama Bapak tak mungkin terlewatkan begitu saja. Ya, hal itu dengan jelas terpampang dari judulnya. Namun tak hanya itu saja, ada alasannya mengapa film ini menjadi begitu populer.

(Sumber: kapanlagi.com)

Sabtu Bersama Bapak punya cerita yang unik. Sosok ayah di sini hadir lewat cara yang sedikit berbeda, melalui kaset rekaman.

Diperankan oleh Abimana Aryasatya, sang ayah memutuskan untuk membuat banyak rekaman yang berisi pesan-pesan serta cerita untuk anak-anaknya. Hal itu dilakukannya setelah menyadari bahwa hidupnya akan segera berakhir. Kaset rekaman pun dipilihnya agar ia bisa tetap menjaga, menuntun, dan menyayangi kedua anaknya meski dirinya tak lagi berada di samping mereka.

2. Mencari Hilal (2015)

Film ini bercerita tentang Mahmud (Deddy Sutomo), untuk mencari hilal seperti yang dilakukannya saat muda dulu di pesantren. Hal ini ia lakukan setelah mendengar kabar soal isu sidang isbat oleh Kementerian Agama yang menelan biaya yang sangat besar.

Namun karena kondisi kesehatannya yang sudah jauh menurun, ia tak diperbolehkan untuk pergi kecuali ditemani oleh anak lelakinya, Heli (Oka Antara). Akhirnya karena didesak oleh sang kakak, Heli pun terpaksa mau menemani sang ayah.

Mencari Hilal tak hanya membahas seputar Islam saja sebenarnya. Namun aspek terkuat dari film ini adalah hubungan ayah dan anak yang cukup rumit. Mereka bertentangan satu sama lain. Mahmud, sang ayah, adalah orang religius yang taat dalam mengikuti perintah Islam dalam semua aspek kehidupannya. Sedangkan Heli kebalikannya, ia terbilang lebih sekuler dan terbuka.

Perjalanan mereka menjadi lebih dari sekadar mencari hilal semata. Namun juga memperlihatkan bagaimana dua orang yang bertolak belakang pada akhirnya memang membutuhkan satu sama lain, sebagai ayah dan anak.

3. Tampan Tailor (2013)

Sebagai orang tua, anak adalah segalanya. Apa pun akan dilakukan untuk membahagiakan buah hatinya. Bahkan dalam situasi terburuk, termasuk membesarkan sang anak tanpa pasangan hidupnya. Seperti yang tergambar oleh seorang penjahit bernama Topan (Vino G. Bastian) di Tampan Tailor.

(Sumber: merdeka.com)

Ia tak pernah menyerah untuk memperjuangkan masa depan anaknya. Ya, meski kehilangan istri serta toko jahitnya. Segala cara ia jalani untuk menyambung hidup keluarganya.

Film ini tak hanya menggambarkan dedikasi seorang ayah untuk melindungi anaknya. Namun juga menunjukkan kita bagaimana kreativitas yang dipadu dengan komitmen, konsekuen, dan pantang menyerah akan mendekatkan pada impian yang selama ini kita perjuangkan.

4. Toba Dreams (2015)

Selain Mencari Hilal, di tahun 2015 juga ada satu film yang menarik yaitu Toba Dreams. Film yang disutradarai oleh Benni Setiawan ini berkisah tentang hidup Ronggur (Vino G. Bastian). Bagaimana ia memimpikan karier yang sukses dan bergelimang harta.

Namun Toba Dreams tak hanya menceritakan tentang jatuh bangun Ronggur dalam mencapai impiannya. Film ini juga memperlihatkan tentang konflik yang terjadi antara ayah dan anak. Ronggur sangat menentang jalan hidup ayahnya yang memilih untuk pulang kampung dan menikmati uang upah pensiunnya sebagai tentara. Maka dari itu, ia memilih untuk bertahan di Jakarta.

Meski pada akhirnya berhasil mencapai impiannya, Ronggur mewujudkannya dengan jalan yang berbahaya, yaitu melalui keterikatannya dengan mafia narkoba. Hal ini jugalah yang meruncingkan konflik Ronggur dan sang ayah yang diperankan oleh Mathias Muchus.

Toba Dreams pun perlahan memperlihatkan tentang cinta seorang ayah pada anaknya. Meski tak sadar pilihan hidup anaknya penuh risiko, sang ayah pada akhirnya menjadi sosok yang dibutuhkan oleh seorang anak, seorang pelindung yang mencintai apa adanya.

5. Naga Bonar Jadi 2 (2007)

Kemunculan perdana karakter Naga Bonar pada 1987 memberi kesan yang kuat. Sebagai film, ia berhasil menyisipkan komedi dalam sebuah cerita berlatar perjuangan kemerdekaan Indonesia. Karakter Naga yang diperankan oleh Deddy Mizwar pun mendapat banyak apresiasi dari banyak pihak. Salah satunya dengan memenangkan penghargaan Pemeran Pria Terbaik di Festival Film Indonesia. Nama Naga Bonar pun menjadi populer di Indonesia.

Kemunculan sekuelnya pada 2008 tentu menjadi hal yang menarik. Tentu muncul pertanyaan seperti akan jadi seperti apa filmnya, terutama mengingat sekuel yang terpaut 21 tahun.

(Sumber: id.bookmyshow.com)

Tentu di masa yang berbeda, Naga tak lagi berjuang mengangkat senjata untuk melawan penjajah. Ia kini hadir sebagai veteran perang yang bergelut dengan anak lelakinya, Bonaga (Tora Sudiro). Penyebabnya adalah Bonaga yang ingin menjual perkebunan sawit milik sang ayah kepada investor dari Jepang. Naga masih bersikap skeptis dengan status Jepang sebagai penjajah Indonesia. Ia pun bersikeras menolak tawaran tersebut.

Pada akhirnya film ini menampilkan dinamika hubungan ayah dan anak yang memiliki banyak sekali perbedaan. Tentunya sangat menarik melihat bagaimana kedua orang ini mencoba memahami cara pandang dan alur berpikir masing-masing, sedangkan tenggat waktu keputusan penjualan lahan semakin mendekat.

Tentunya bila membahas film ayah dan anak, Naga Bonar Jadi 2 adalah salah satu yang paling menarik dan patut diperhitungkan. Terutama bila mengingat film ini diganjar penghargaan Film Terbaik pada Festival Film Indonesia 2007.

—–

Ya, itulah lima film Indonesia pilihan tentang sosok ayah. Mungkin melalui film-film ini bisa mengingatkan kita bahwa apa pun yang terjadi, ayah adalah orang yang paling berani untuk mencintai kita, apa pun keadaannya.

Selamat Hari Ayah Nasional, Kawan Kutu!


Kutu Kasur

"Most of us are losers most of the time, if you think about it." - Richard Linklater