13 Reasons Why (Season 1): When Dementor Decided to Try A New Way to Suck Your Soul


Review Share to

Kreator: Brian Yorkey
Pemeran: Dylan Minnette, Katherine Langford, Christian Navarro, Alisha Boe, Brandon Flynn
Genre: Drama, Thriller
Jumlah Episode: 13 Episode

Credit: Pinterest

Saya terhitung jarang melakukan review pada sebuah serial. Ketika melakukannya pun, saya lebih memilih untuk merangkum keseluruhan season dalam satu tulisan dibanding membedah tiap episode. Kenapa? Karena saya lebih memilih melihat serial sebagai suatu keutuhan. Sebuah serial terbiasa memiliki sutradara dan penulis yang berbeda untuk setiap episodenya, sehingga akan terlampau detail dan membosankan bila saya harus membahas satu per satu.

Awalnya saya akan mencoba membahas sedikit satu per satu episode 13 Reasons Why. Namun rasanya Kawan Kutu harus mendapat pengalaman seperti yang saya rasakan, dan tetap menebak seperti “apa dan siapa” yang ada di episode selanjutnya.

Serial produksi Netflix ini, yang awalnya akan diangkat ke layar lebar dengan mendapuk Selena Gomez (akhirnya duduk di kursi eksekutif produser) untuk memerankan Hannah, dirilis pada 31 Maret  lalu. Serial ini diangkat dari novel dengan judul sama karya Jay Asher, yang kemudian diadaptasi oleh Brian Yorkey.

Di sini saya hanya akan memberi gambaran besar tentang cerita serial ini. 13 Reasons Why mengisahkan tentang Hannah Baker, seorang siswi SMA yang secara tragis ditemukan tewas di bathtub rumahnya. Ia kehabisan darah, setelah mengiris nadi di kedua tangannya. Namun meninggalnya Hannah menyisakan misteri, terlebih ia meninggalkan “warisan” berupa 7 buah kaset tape berisi rekaman suaranya yang menjabarkan 13 alasan mengapa ia bunuh diri.

Saya mengawali serial ini dengan perasaan seperti akan berkunjung ke Dufan. Kemudian diakhiri dengan perasaan seperti habis menghadiri pemakaman.

13 Reasons Why dimulai dengan episode yang “cukup ringan”. Namun kemudian kita akan dibawa untuk melangkah jauh lebih dalam ke sisi yang lebih gelap. Kita akan dibawa menyelam ke sebuah cerita tentang seorang korban bullying, di mana ia menjalani hari-hari yang teramat berat dalam kehidupannya. Seolah setiap nafas yang ia tarik adalah sebuah kutukan.

Kita pun akan diajak untuk melihat dunia dari kacamata remaja usia SMA. Ya seperti pada umumnya, mereka haus akan pembuktian diri, rasa ingin diakui, dan rasa ingin selamat sendiri. Masa-masa di mana tiap individu mencoba mencari jati diri. Masa di mana semua hal dicoba untuk mendapat pengakuan dari lingkungan kita.

Dalam masa tersebut, tentu beberapa orang merasa bahwa itu adalah salah satu masa terbaik dalam hidupnya. Begitu pun sebaliknya, sebagian orang merasa masa-masa itu adalah keadaan paling rapuh bagi dirinya. Isu tersebutlah yang coba diangkat dari serial ini.

Dibalik misteri yang membalut di setiap episode, akting yang luar biasa dalam diri masing-masing pemeran, dan gaya cerita suspense yang membuat kita menumpuk tanda tanya, terdapat sebuah “kotak pandora” yang coba disampaikan di dalam 13 Reasons Why.

Secara alur, film ini menggunakan alur yang bercampur. Kita diajak melihat kisah Hannah melalui dua sudut pandang. Di satu sisi sebagai Hannah yang menuturkan cerita, juga sebagai Clay yang turut menelusuri fakta dari isi seluruh kaset tersebut. Tempo cerita berjalan lambat dan cukup detail, mengajak kita menelusuri sedikit demi sedikit fakta yang mengiris hati dan perasaan kita yang menyaksikan serial ini.

Credit: Variety

Akting dari Dylan Minnette (Clay Jensen), Katherine Langford (Hannah Baker), Christian Navarro (Tony Padilla), Alisha Boe (Jessica Davis), Brandon Flynn (Justin Foley), Justin Prentice (Bryce Walker), Miles Heizer (Alex Standall), Ross Butler (Zach Dempsey), Devin Druid (Tyler Down), Amy Hargreaves (Lainie Jensen), Derek Luke (Kevin Porter), dan Kate Walsh (Olivia Baker) membuat serial ini terasa natural dan kita seolah dibuat menyaksikan sebuah realita yang benar-benar terjadi.

Scoring oleh Eskmo pun turut membantu setiap episode memiliki warnanya tersendiri. 13 Reasons Why memiliki 6 sutradara berbeda untuk 13 episodenya, dengan gaya penuturan dan keunikan masing-masing. Namun hal itu tak mempengaruhi konsistensi serial ini yang tetap bertahan pada nuansa yang depressing. Meskipun ada beberapa episode yang sedikit “kehilangan arah” dalam beberapa adegan, serta kurang halusnya preposisi perpindahan alur yang terkadang membuat bingung. Hal itu tidak langsung membuat serial ini kehilangan sentuhannya.

13 Reasons Why menjadi salah satu sajian yang cukup meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Karena bukan hanya sekadar sebuah hiburan, tetapi serial ini seolah menjadi sebuah kritik sosial, dan sebuah peringatan akan dampak ekstrim dari bullying. Selain itu, 13 Reasons Why juga seolah mengajak kita untuk lebih peka terhadap tanda-tanda dari seseorang yang memiliki kecenderungan suicidal. Episode demi episode menceritakan secara detail pengalaman Hannah dengan lingkungannya, teman-temannya, “cinta terpendamnya”, hingga rasa traumanya. Kita diajak untuk menyaksikan proses bagaimana rusaknya mental seseorang akibat bullying.

Bahkan dari beberapa sumber yang saya dapatkan, tim produksi menyediakan “dog therapy” dalam proses pembuatan dan produksi. Karena bahkan dalam prosesnya pun, serial ini terbilang “depressing” bahkan untuk para pemerannya. Dampak dari serial ini pun cukup “mengejutkan” di Brazil, di mana setelah perilisan serial ini, suicide hotlines mengalami peningkatan sambungan hingga 100%.

13 Reasons Why mencoba membuka mata kita semua, bahwa di manapun, di belahan bumi ini, bullying bukanlah hal yang dapat kita lakukan terhadap orang lain. Menyaksikan ini membuat saya mencoba merefleksikan diri saya sendiri. Menghadirkan rasa bersalah tersendiri terhadap hal-hal yang mungkin saya lakukan. Segala hal yang berdampak buruk terhadap psikologis orang lain hanya untuk alasan “bercanda” dan “hiburan”. Karena apapun alasannya, bukanlah hal yang tepat mengorbankan perasaan orang lain hanya untuk kepuasan kita semata.

13 Reasons Why merupakan serial yang menguras sisi sentimentil dari diri kita. Seolah serial ini adalah perwujudan Dementor dari serial Harry Potter, yang dapat menyerap setiap kebahagiaan, cahaya, dan “jiwa” kita ketika menyaksikannya.

A beatiful, yet depressing masterpiece.

Rating: 8,8/10

*Catatan:
A must watch series. Terutama untuk kita yang merasa bahwa menjadikan seseorang “alat bercanda” adalah hal yang wajar.

*Review ini ditulis oleh Kutu Klimis


Kutu Butara

Penonton kasual